, ,

Jalanan Berubah Menjadi Galeri Cahaya Yang Hidup

oleh -209 Dilihat

Gemerlap “Sumirat”: Pawai Cahaya Meriahkan HUT Bandung ke-215

Cimahi Bandung tidak pernah berhenti mengejutkan. Di malam yang biasanya tenang,  jalanan ibu kota Jawa Barat itu berubah menjadi galeri seni berjalan yang spektakuler. Menyambut Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-215, kemeriahan tidak hanya hadir di siang hari, tetapi justru mencapai puncaknya di bawah gemerlap lampu dan cahaya lewat “Sumirat City Light Carnival”.

Jalanan Berubah Menjadi Galeri Cahaya Yang Hidup
Jalanan Berubah Menjadi Galeri Cahaya Yang Hidup

Baca Juga : Topeng Tokoh Tersegani, Wajah Pencabul Yang Tersembunyi

Karnaval Cahaya di Udara yang Segar

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, karnaval kali ini sengaja digelar pada malam hari. Suasana terasa begitu magis dan berbeda. Usai hujan yang menyegarkan, udara Bandung berembus sejuk, menciptakan panggung alam yang sempurna untuk parade mobil hias bercahaya. Acara dibuka dengan pelepasan secara resmi oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, di halaman Balai Kota Bandung, dengan rute yang berakhir di Lapangan Tegallega.

“Karnaval sekarang berbeda, dilakukan malam hari setelah hujan reda, udara lagi enak-enaknya dengan cahaya di mana-mana,” ujar Farhan dengan semangat. Ia menjelaskan makna mendalam di balik tema ‘Sumirat’. “Jadi ini tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan bahwa Bandung siap menyemburatkan cahaya alias sumirat.

Jejak Sejarah dalam Replika Cahaya

Yang membuat pawai ini begitu istimewa adalah tema yang diusung: bangunan bersejarah Kota Bandung. Setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kecamatan, dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ditantang untuk berkreasi. Hasilnya, puluhan mobil hias itu tidak hanya indah, tetapi juga sarat akan cerita dan edukasi.

Para penonton disuguhi replika-replika ikonik yang dibalut cahaya, seperti Gedung Merdeka yang megah, tempat Konferensi Asia-Afrika bersejarah digelar; Gedung Indonesia Menggugat yang penuh nilai perjuangan; serta berbagai landmark lainnya yang menjadi saksi bisu perjalanan Kota Kembang. “Setiap wilayah dan setiap organisasi pemerintahan daerah diwajibkan untuk membuat replika dari beberapa landmark maupun ide-ide kreatif yang ada di Kota Bandung,” jelas Farhan. Melalui cara ini, sejarah tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan dalam bentuk pertunjukan visual yang memukau.

Kemacetan yang Dimaklumi, demi Sebuah Perayaan

Walikota Bandung, Erwin, turut hadir dan mengakui bahwa acara sebesar ini pasti akan berdampak pada lalu lintas. Iring-iringan mobil hias yang spektakuler tentu menarik perhatian ribuan warga yang memadati jalan, menimbulkan kemacetan di sepanjang rute. Namun, Erwin meminta pengertian dan partisipasi aktif seluruh warga.

“Ya tentunya pasti macet ya,” ujarnya sambil tersenyum. “Tapi ini kan di malam hari, di malam minggu. Nikmati saja kegembiraan ini karena ini diadakan untuk hiburan juga buat Kota Bandung.”

Ia menekankan bahwa momen 215 tahun adalah usia yang penuh legenda. “Bandung menjadi legenda sebagai ibu kota Jawa Barat. Kita mengadakan ini tidak hanya sebagai pesta, tetapi untuk menciptakan kenangan indah bersama. Biarlah malam ini kita rayakan bersama, meski harus sedikit bersabar di jalan.”

Pawai Mobil Hias HJKB ke-215 ini lebih dari sekadar perayaan. Ia adalah sebuah pernyataan. Sebuah pertunjukan yang membuktikan bahwa Bandung, di usianya yang semakin matang, tetap mampu bersinar, berkreasi, dan menghibur warganya dengan cara-cara yang tak terlupakan. Cahayanya tidak hanya menerangi jalanan, tetapi juga hati warga yang menyaksikannya, mengukir kenangan manis di hari jadinya yang ke-215.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.