, ,

Hati Yang Sesak Di Tengah Mesin-Mesin Ekskavator

oleh -313 Dilihat

Nasib Pilu Nyi Wartisah, Lansia Tunanetra yang Terancam Kehilangan ‘Surga’nya di Bandung Barat

Diskusi Cimahi- Di tengah gemuruh mesin ekskavator dan debu yang beterbangan, duduklah seorang perempuan renta berusia 83 tahun. Matanya yang telah lama tak bisa melihat memandang kosong ke arah suara-suara kekacauan itu. Hati yang sesak, pikirannya kalut, bertanya-tanya tentang masa depan yang gelap gulita.

Hati Yang Sesak Di Tengah Mesin-Mesin Ekskavator
Hati Yang Sesak Di Tengah Mesin-Mesin Ekskavator

Baca Juga : Viral Video Adegan Asusila Karyawan Restoran Cepat Saji di Kuningan, Polisi Turun Tangan

“Emak teh tidak punya uang, tidak bisa kerja. Emak ini tunanetra, tidak bisa ngeliat. Mau pindah ke mana?” ucapnya dengan suara bergetar, mencoba menggambarkan betapa tak berdayanya ia menghadapi gelombang penggusuran di kawasan Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Hidup yang Bertumpu pada Belas Kasih

Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat bernaung, berlindung, dan membangun kenangan. Bagi Nyi Wartisah, rumah sederhana berisi empat kamar itu adalah seluruh dunianya. Di sanalah ia bertahan hidup, bergantung sepenuhnya pada belas kasihan anak-anaknya yang juga hidup dalam kesulitan ekonomi.

“Mengaharapkan pemberian saja, dari anak. Anak ada yang kerja tapi tidak cukup sebulan, kerja juga kan sebagai pembantu,” tuturnya, merujuk pada pekerjaan anaknya yang serabutan sebagai pembantu dengan penghasilan yang sangat minim.

Tragisnya, keterbatasan bukan hanya miliknya seorang. Salah satu anak perempuannya, Ani Cahyani (50), juga mengalami nasib serupa: hidup dalam gelapnya kebutaan. Ibu dan anak ini saling menjadi penopang semangat di tengah kegelapan mereka, tinggal bersama sejumlah cucu dalam satu atap yang sama.

Kebingungan di Tengah Puing-puing

Menjelang hari-H penggusuran, suasana rumah mereka telah mirip dengan gudang yang akan dikosongkan. Barang-barang seadanya yang mungkin tak berharga bagi orang lain, tapi sangat berharga bagi mereka sudah dibungkus dalam karung dan karpet digulung, ditumpuk di sudut ruangan. Namun, pertanyaan besarnya tetap tak terjawab: Mau dibawa ke mana? Mau pindah ke mana?

Hati Kami cari rumah cari tanah dari mana?” keluh Wartisah, suaranya penuh keputusasaan. “Sudah dua kali rapat, tapi memang tidak ada penggantian katanya,” ujarnya.

Harapan Tipis dari Kegelapan

Ani Cahyani, sang anak, mencoba menyuarakan harapan yang nyaris mustahil. Dalam kondisinya, ia hanya bisa berharap pemerintah memiliki empati dan kebijaksanaan untuk melihat penderitaan keluarganya.

“Belum ada tempat untuk pindah. (Saudara) ada, tapi rumah saudara kecil. Ya kami mohon untuk kehidupan kami sehari-hari, kalau ada ganti rugi alhamdulillah,” ungkap Ani, harapannya tertumpu pada seberkas keajaiban berupa bantuan atau ganti rugi yang dapat menyelamatkan mereka dari jalanan.

Alasan Penggusuran: Mengembalikan Fungsi Kawasan

Di sisi lain, pemerintah melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Revitalisasi Situ Ciburuy, Ninda Agustina, menegaskan bahwa penertiban ini adalah bagian dari proyek besar untuk mengembalikan fungsi alamiah kawasan Situ Ciburuy.

“Situ Ciburuy itu kan wisata dan dia penampungan air dari sisi SDA-nya, badan air. Kita kembalikan fungsinya,” jelas Ninda dari UPTD PSDA Wilayah Sungai Citarum, DSDA Jawa Barat.

Namun, di balik jargon penataan dan revitalisasi, tersembunyi cerita pilu warga seperti Nyi Wartisah dan keluarganya. Mereka terjepit di antara kebijakan pembangunan dan realitas hidup yang pahit.

Saat ini, Nyi Wartisah hanya bisa menunggu, berdoa, dan berharap ada keajaiban yang mengulurkan tangan. Tanpa tempat untuk pergi, tanpa uang untuk menyewa, masa depannya dan masa depan keluarganya tergantung pada belas kasihan yang mungkin saja datang terlambat.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.