Gelombang Kenaikan Harga Pangan Terjang Pasar Cimahi, Pedagang: “Stok di Caringin Langsung Ludes Diserbu Program MBG!”
Cimahi- Suasana hening dan wajah-wajah muram mulai menghiasi los-los di Pasar Antri, Kota Cimahi. Berbeda dari biasanya, tawa tawar-menawar antara pedagang dan pembeli seakan tenggelam oleh keluh kesah akan melambung harga berbagai komoditas pokok. Dalam sepekan terakhir, gejolak harga yang tidak stabil telah membuat napas usaha para pedagang tradisional tersengal-sengal.

Baca Juga : Modifikasi Tangki Mobil Untuk Curi BBM Diduga Pemicu Kebakaran Hebat Di Cimahi
“Ini seperti perlombaan yang tidak seimbang. Ketika kami tiba di Pasar Induk Caringin untuk mengambil barang, seringkali stok sudah habis atau tinggal sisa-sisa yang tidak banyak,” keluh Yanto (49), seorang pedagang yang telah puluhan tahun mengais rezeki di Pasar Antri, dengan suara lirih penuh kepenatan.
Akar masalah dari kekacauan distribusi ini, menurut para pedagang, bersumber dari sebuah program pemerintah yang mulia: Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Namun, niat baik itu kini menciptakan efek berantai yang memukul telak pasar tradisional.
Mekanisme yang Memicu Kelangkaan
Yang terjadi bukanlah sekadar peningkatan permintaan, melainkan pergeseran dalam rantai pasok. Program MBG dikabarkan memesan pasokan bahan pangan dalam skala masif secara langsung dari Pasar Induk Caringin, yang merupakan jantung distribusi. Bukan hanya memesan, penyedia program juga disebut-sebut membeli langsung dari distributor utama dalam jumlah yang sangat besar.
“Kami melihat sendiri, banyak mobil-mobil logistik berstiker MBG terparkir di Caringin. Mereka memborong langsung dari sumbernya. Akibatnya, apa yang tersisa untuk kami, pedagang kecil? Harga pun otomatis meroket karena barang menjadi langka,” papar Yanto, menggambarkan ketidakberdayaan yang dirasakan.
Ia menambahkan, dalam kondisi normal, harga komoditas seperti beras, telur, minyak goreng, dan sayuran mungkin stabil dalam seminggu. Kini, situasinya berubah drastis. “Dalam seminggu saja, harga bisa naik dua sampai tiga kali. Otomatis, pembeli kami juga berkurang karena mereka pun mengeluhkan harga yang mahal,” tuturnya.
Dampak Berantai yang Terasa di Tingkat Akar Rumput
Efeknya tidak berhenti pada kesulitan pedagang. Ibu-ibu rumah tangga dan pelanggan setia pasar tradisional kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atmosfer pasar yang biasanya ramah kantong, berubah menjadi tempat yang menegangkan.
“Saya belanja untuk kebutuhan seminggu, tapi uang yang biasa cukup sekarang malah kurang. Akhirnya harus memilih, mana yang benar-benar harus dibeli,” ujar Sari (38), salah satu pembeli yang ditemui di Pasar Antri.
Meski faktor lain seperti cuaca yang tidak menentu turut disinggung sebagai penyebab ketidakstabilan, Yanto dan rekan-rekannya bersikukuh bahwa gangguan utama pasokan dari Pasar Induk Caringin akibat program MBG-lah pemicu utamanya.
Respons Pemerintah: Koordinasi dan Evaluasi Berkelanjutan
Menanggapi gelombang protes dan keluhan yang bermunculan, Kepala UPTD Pasar Kota Cimahi, Wawan Haryana, mengaku telah mengambil langkah antisipasi.
“Kami memahami keluhan yang ada dan telah melakukan langkah-langkah koordinasi intensif dengan Dinas Perdagangan serta pihak-pihak terkait lainnya,” jelas Wawan.
Langkah koordinasi ini, sambungnya, bertujuan untuk memastikan mekanisme distribusi barang dapat berjalan lebih lancar dan merata, tanpa mengorbankan kepentingan satu pihak. “Kami akan terus melakukan evaluasi secara berkelanjutan terhadap proses distribusi ini. Tujuannya agar program pemerintah yang baik tidak justru menimbulkan gejolak di lapangan,” pungkas Wawan, berjanji untuk mencari solusi terbaik.
Sementara janji evaluasi digaungkan, para pedagang dan konsumen di Pasar Antri hanya bisa berharap agar kestabilan harga segera kembali. Mereka menanti solusi nyata yang tidak hanya memenuhi kebutuhan program, tetapi juga melindungi denyut nadi perekonomian di pasar-pasar tradisional.





