Harga Beras di Cimahi Tembus Rp 15.500/kg, Pedagang dan Pembeli Keluhkan Kenaikan di Atas BATAS
Cimahi- Suasana di Pasar Cimindi, Kota Cimahi, diwarnai keluhan seiring meroketnya harga bahan pokok utama, beras. Harga Beras eceran untuk beras jenis medium dan premium secara nyata telah melampaui Batas Harga Eceran Tertinggi HET yang ditetapkan pemerintah. Yang seharusnya dijual maksimal Rp 12.500 per kilogram, beras medium kini dibanderol hingga Rp 13.500. Sementara itu, beras premium yang HET-nya Rp 14.900, dengan mudah ditemui di lapangan seharga Rp 15.500 per kilogram.

Baca Juga : Ibu Rumah Tangga Tewas Bersimbah Darah, Polisi Selidiki Motif
Kenaikan ini memantau perhatian penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, gabungan tim yang terdiri dari Satgas Pangan, Polres, Bulog, dan Dinas Perdagangan, Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (Dispangtan) menemukan fakta bahwa sebagian besar pedagang menjual di atas ketentuan.
“Iya, benar. Kami melakukan pengontrolan untuk memastikan kepatuhan terhadap HET. Hasilnya, rata-rata terjadi kenaikan. Untuk beras medium ada yang di angka Rp 13.500, meski ada juga yang masih patuh dan bahkan ada yang menjual di bawah HET,” jelas Kepala Dispangtan Cimahi, Hella Haerani, di sela-sela inspeksinya di Pasar Cimindi.
Akar Masalah: Rantai Distribusi Panjang dan Gangguan Cuaca
Menurut Hella, lonjakan harga ini tidak terjadi tanpa sebab. Ia membeberkan sejumlah faktor kompleks yang berperan. Faktor pertama adalah rantai distribusi yang panjang dan berbiaya tinggi. “Kenaikan dari masing-masing supplier itu berbeda-beda. Ada yang kenaikannya signifikan, terkait dengan masalah biaya transportasi,” ujarnya.
Faktor kedua, dan yang dinilai paling krusial, adalah masalah di hulu, yaitu ketersediaan gabah kering. “Stok gabah lagi terbatas. Ditambah lagi, cuaca yang tidak menentu belakangan ini menyebabkan kemunduran masa panen dan memperlambat proses pengeringan. Akibatnya, banyak gabah yang masih basah sehingga proses pengiriman ke penggilingan pun tertunda,” papar Hella, merinci mata rantai masalah yang berimbas langsung ke harga eceran.
Langkah Penertiban: Dari Imbauan Hingga Sanksi Tegas
Menanggapi temuan ini, Pemkot Cimahi tidak tinggal diam. Hella menuturkan bahwa laporan mengenai pelanggaran HET di Pasar Cimindi akan dilaporkan secara berjenjang hingga ke pemerintah pusat. Di sisi lain, langkah persuasif dan represif akan segera digencarkan.
“Kami akan segera menerbitkan surat imbauan, tidak hanya untuk pasar daerah seperti ini, tetapi juga untuk pasar swasta seperti Pasar Antri dan Ranca Bentang. Edukasi kepada pedagang dan supplier akan kami intensifkan,” tegas Hella.
Ia juga mengingatkan adanya sanksi yang mengancam bagi pelaku usaha yang bandel. “Jika setelah diimbau masih nekat menjual di atas HET, kami akan menindak tegas berdasarkan aturan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Ada sanksi administratif yang bisa diterapkan. Harapannya, dengan demikian supplier tidak menaikkan harga terlalu tinggi, sehingga pedagang bisa kembali menjual sesuai HET,” tandasnya.
Suara Hati Pedagang: Terjepit di antara HET dan Harga Beli
Di balik tumpukan karung beras, Tania (51), seorang pedagang beras di Pasar Cimindi, mengaku terjepit situasi. Ia membenarkan kenaikan harga yang terjadi. “Sekarang lagi naik, tinggi sekali harganya. Yang medium biasanya saya jual Rp 12.500, sekarang harus naik jadi Rp 13.000 per kilo. Kalau yang premium, dari Rp 15.000 sekarang jadi Rp 15.500,” keluh Tania yang telah puluhan tahun berjualan.
Bagi Tania, menaikkan harga adalah pilihan terpaksa. Ia menjelaskan bahwa harga beli dari supplier sudah lebih tinggi, sehingga mustahil baginya menjual dengan HET lama tanpa mengalami kerugian. “Kalau jual sesuai HET yang lama, kami bisa bangkrut. Modal saja sudah lebih mahal,” ujarnya.
Ia juga membenarkan analisis pemerintah soal keterlambatan pasokan. “Dari para supplier dan petani, ceritanya pasokan gabah kering memang lagi kurang. Meski katanya sedang musim panen raya, tapi karena cuaca tidak menentu, hasil panennya terganggu. Pengiriman jadi molor, dan beras yang sampai harganya otomatis naik,” jelas Tania yang mengandalkan pasokan beras dari Solo, Ngawi, Garut, dan Majalengka.
Kenaikan ini bukan hanya sekadar angka di atas kertas, tetapi telah menjadi beban tambahan bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro yang harus mengencangkan ikat pinggang, menunggu langkah konkret pemerintah menstabilkan harga pangan paling pokok ini.





