DPRD Jabar Soroti Pakan Ternak Sampah, Sri Dewi Anggraini: “Kehalalan dan Kesehatan Hewan adalah Pondasi Ketahanan Pangan Kita”
Diskusi Cimahi- Isu kehalalan dan kesehatan hewan ternak tidak lagi sekadar urusan kualitas produk, melainkan telah menjadi persoalan mendasar yang menyangkut kesehatan masyarakat dan ketahanan pangan nasional. Menyikapi hal ini, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj. Sri Dewi Anggraini, secara tegas mengajak seluruh lapisan masyarakat, mulai dari peternak, pelaku industri, hingga konsumen, untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan komitmen dalam menjaga rantai produksi peternakan yang sehat dan halal.

Baca Juga : Hati Yang Sesak Di Tengah Mesin-Mesin Ekskavator
“Yang kita konsumsi bukan hanya sekadar daging atau susu, tetapi yang kita telan adalah seluruh rangkaian proses yang dilalui hewan ternak tersebut. Mulai dari kebersihan kandang, kualitas pakan, hingga kesehatan hewan itu sendiri. Itu semua berdampak langsung pada kesehatan kita dan generasi penerus,” ujar Sri Dewi Anggraini dalam sebuah wawancara eksklusif via telepon, Sabtu (20/9/2025).
Politisi yang aktif membidangi masalah ketahanan pangan ini menyoroti praktik pemberian pakan yang tidak layak, seperti sampah makanan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sebagai sebuah ancaman serius. Menurutnya, pakan yang terkontaminasi limbah bukan hanya masalah etika, tetapi sebuah bom waktu bagi kesehatan masyarakat.
Dari Kandang ke Piring: Mengurai Mata Rantai Kesehatan
Dewi, sapaan akrabnya, memaparkan bahwa konsumsi pakan sampah dalam jangka panjang akan menyebabkan akumulasi zat berbahaya, seperti logam berat, mikroplastik, dan bakteri patogen, dalam organ tubuh ternak. Zat-zat beracun ini kemudian akan berpindah kepada manusia yang mengonsumsi daging, jeroan, atau susu dari hewan tersebut.
“Efeknya tidak instan, tetapi bersifat jangka panjang dan akumulatif. Ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari gangguan pencernaan, keracunan, hingga yang paling mengkhawatirkan adalah kontribusinya terhadap kasus stunting pada anak-anak akibat terpaparnya zat-zat yang menghambat pertumbuhan,” tegasnya.
Lebih lanjut, sebagai representatif umat Muslim terbesar di dunia, Dewi menekankan bahwa jaminan kehalalan tidak hanya berhenti pada proses penyembelihan yang sesuai syariat. “Thayyib (baik) dalam Islam itu mencakup halal dan sehat. Seekor hewan yang mengonsumsi barang-barang najis dan kotor, bagaimana bisa menghasilkan daging yang thayyib? Ini adalah prinsip yang tidak bisa kita kompromikan,” jelas anggota Komisi II DPRD Jabar ini.
Kolaborasi Pentahelix: Kunci Menuju Solusi Berkelanjutan
Untuk memutus mata rantai permasalahan ini, Sri Dewi Anggraini menyerukan kolaborasi menyeluruh dari lima unsur (Pentahelix): pemerintah (eksekutif dan legislatif), akademisi, pelaku usaha, komunitas masyarakat, dan media.
“Pemerintah harus memperkuat regulasi dan pengawasan, khususnya terhadap peredaran dan kualitas pakan ternak. Legislatif akan terus mendorong dan mengawal kebijakan yang pro terhadap kesehatan ternak dan masyarakat. Kami di DPRD Jabar, bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP), telah aktif melakukan edukasi dan pendampingan kepada peternak,” paparnya.
Ia juga mendorong peran serta dunia usaha untuk menyediakan pakan ternak yang terjangkau, bergizi, dan halal
Sementara itu, akademisi diharapkan dapat memberikan inovasi teknologi tepat guna untuk mengolah limbah organik menjadi pakan yang aman. Peran media dan komunitas sangat vital dalam menyebarkan kesadaran dan melakukan kontrol sosial.
“Pada akhirnya, semua bermuara pada ketahanan pangan. Ternak sehat, masyarakat pun sehat. Ketahanan pangan kita akan kuat jika dibangun dari fondasi yang berkualitas, dimulai dari hal yang paling dasar: memastikan apa yang dimakan oleh ternak-ternak kita adalah yang terbaik,” tutup Sri Dewi Anggraini dengan penuh keyakinan.





